Terjadi Lagi, Kepala Bayi Baru Lahir Langsung Putus Akibat Ditarik Bidan Gadungan, Dokter Malah Bilang Begini

Posted on

Kepolisian Resort (Polres) Asahan sudah menetapkan perawat yang membantu proses persalinan Faridah Hanum (33) di Desa Aek Nagali Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Ashan, sehingga kepala bayi tersebut terputus.

Bidan Desa berinisial DS itu tidak memiliki izin praktik (SIP) kebidanan. Dia dijerat UU No 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan pasal 84 ayat (2). Ancaman hukuman lima tahun penjara dan subsider Pasal 86 ayat (1) dengan denda Rp 100 juta.

“Penetapan tersangka ini setelah penyidik mengambil keterangan dari enam orang saksi, termasuk keterangan dari ahli medis,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Asahan, AKP Enderson Siringoringo di Kabupaten Asahan, Rabu (13/1).

Disebutkan, saksi yang dimintai keterangan itu masing – masing, Bohiran suami Farida Hanum, Rudi Hartono, adik Farida Hanum, Rumada boru Silaban. Dari pihak medis, polisi mengambil keterangan dr Binsar Sitanggang.

“Kepada Dinas Kesehatan di Asahan, dr Hidayat dan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Asahan, Edi Syahputra AMK, juga dimintai keterangannya untuk melengkapi berkas perkara dari kasus perawat DS tersebut,” katanya.

Menurutnya, Farida Hanum yang melahirkan bayi putus dari kepala itu belum dimintai keterangan. Farida akan dimintai keterangan setelah kondisi kesehatan pascamelahirkan tersebut, sudah membaik. Bayi yang sudah tidak bernyawa itu pun diautopsi.

Dr Binsar Sitanggang, salah seorang saksi mewakili tim medis, saat menjalani pemeriksaan sebagai saksi ahli kepada penyidik menyampaikan, bayi Faridah Hanum sudah meninggal dunia sekitar empat maupun lima hari sebelum proses persalinan.

Selain itu, keterangan ahli forensik dari Rumah Sakit Umum Dr Djarasmen Saragih di Pematang Siantar, yang didatangkan untuk melakukan uji forensik, juga menyampaikan bahwa bayi sudah meninggal beberapa hari sebelum persalinan.

Kata Dokter: Itu Karena Kondisi Bayi Rapuh

Bidan yang bertugas mengeluarkan bayi tak bisa disalahkan dalam kasus lepasnya kepala bayi Farida Hanum di Asahan. Hal itu karena kondisi bayi itu memang sangat rapuh. Lho, kok?

Terkait putusnya kepala bayi tersebut, dr Binsar P Sitanggang SPOG yang menangani Farida malam itu menyebutkan, dari sisi medis ada beberapa kemungkinan yang dapat memicu terjadinya peristiwa tersebut.

Namun pada umumnya, terjadi karena bahu janin tersangkut di rahim sang ibu sehingga tubuh sang bayi tidak bisa keluar.

“Kasus seperti ini dinamakan Distosia Bahu. Dan biasanya, terjadi pada kelahiran di mana bayi yang hendak lahir berukuran besar atau di atas normal,” katanya.

Tubuh bayi Farida Hanum, yang lahir tidak normal dengan kepala terpisah dari badannya tampak ditutupi kain panjang saat masih berada di RSU HAMS Kisaran, Senin (11/1/2016). | Foto: Edwin Fs/JPNN

Ketika disinggung mengenai kemungkinan terjadinya kesalahan prosedural dalam penanganan persalinan, Sitanggang enggan mengomentari lebih lanjut. Dia menilai hal itu sudah memasuki materi teknis yang hanya bisa diungkapkan pada pihak kepolisian yang tengah menyelidiki adanya pelanggaran pidana dalam kasus ini.

“Biar polisi saja yang menentukan kalau masalah itu,” jelas Binsar.

Hanya saja, Binsar menegaskan, sesuai pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, kemungkinan besar bayi malang tersebut sudah meninggal di dalam kandungan, 3 atau 4 hari sebelum waktu kelahiran tersebut.

“Kemungkinan besar bayinya sudah meninggal sebelum lahir. Makanya, tubuhnya menjadi rapuh,” jelas Binsar.

Menurut dokter RS Haji Abdul Manan Simatupang (RS HAMS) Kisaran, dr Binsar Sitanggang, yang ikut mengeluarkan potongan badan bayi dari rahim warga Desa Aek Tarum, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumut, bayi itu memang sudah meninggal beberapa hari dalam kandungan.

Binsar mengatakan, jasad bayi itu telah membusuk sehingga saar proses persalinan kepalanya putus saat ditarik keluar oleh bidan DS. “Dalam istilah medis, kasus semacam ini dikenal dengan istilah distosia bahu yang pada akhirnya membuat tubuh sang bayi yang telah meninggal menjadi rapuh,” terangnya.

Pernah Terjadi di Bogor Pada Tahun Lalu

Sungguh tragis. Saat dilakukan proses persalinan kepala bayi yang hendak keluar dari rahim Yanti (23) terputus. Sedangkan badannya tertinggal dirahim sang ibu.

Yanti dilarikan ke RS Medical Centre , Jl. Pajajaran Indah V No.97, Kota Bogor, Jawa Barat, untuk mengeluarkan badan bayi yang masih tertinggal di rahim nya Kejadian Rabu (14/9) malam .

Kapolres Bogor, AKBP Andi Moch Dikcy saat dihubungi Tribun, Kamis (15/9) membenarkan kejadian tersebut.

Dijelaskannya, pihaknya sedang memeriksa tiga saksi, Tersangka bidan Gadungan memasang papan nama klinik bersalin di depan rumahnya.

Sedangkan sang ibu bayi perempuan itu masih menjalani perawatan di rumah sakit dan badan bayi nya sudah di keluarkan pihak RS Medical Centre Kota Bogor.

Ditambahkan Kapolres, pihaknya sudah mengatakan, dalam menjalankan profesinya, tersangka memang sengaja memasang papan nama klinik bersalin di depan rumahnya.

“Mendapat laporan keluarga korban dan informasi warga setempat, petugas langsung menangkap DS Bidan Gadungan tersebut di rumahnya. Kami juga sudah mencabut papan namanya dan dari hasil penyelidikan DS (37) adalah bidan gadungan yang hanya bertamatan SMP .” katanya kepada Tribunkota saat ditemui di ruang kerjanya pagi tadi .

Pengakuan DS saat di mintai keterangan mengatakan bahwa bayi nya sudah meninggal saat dalam kandungan .

Amiruddin, salah satu anggota keluarga mengatakan, malam itu Yanti dibawa ke rumah bidan persalinan berinisial DS untuk melahirkan anaknya.

Namun, saat anggota keluarga mencuci pakaian bekas persalinan terkejut karena menemukan kepala bayi di dalamnya.

“Awalnya kami nggak tau bayinya sudah meninggal. Bidannya bilang masih dalam proses menunggu,” katanya.

Akibat perbuatannya, DS dijerat Undang-Undang Kesehatan dan Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman Sembilan tahun penjara. Wanita yang sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga itu harus mendekam di Mapolres Bogor Kota.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *