Sabda Rasulullah: “Hanya Lelaki Mulia Yang Memuliakan Wanita dan Hanya Lelaki Pengecut Yang Merendahkan Mereka”

Posted on

Akhlak seorang lelaki itu bisa dilihat bagaimana cara dia memperlakukan wanita.
Dan akhlak seorang suami itu bisa dilihat bagaimana cara dia memperlakukan isterinya.
Seorang lelaki yang baik akan selalu menghormati wanita.
Dan seorang suami yang baik akan selalu memuliakan isterinya.
Seorang lelaki terhormat tak akan pernah mempermainkan wanita.
Dan seorang suami terhormat tak akan menyakiti hati isterinya.
“ARRIJALU QAWWAMUNA ‘ALAN NISA’I (Lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita)”
Maka bersikaplah sebagai pemimpin yang baik.
Maka perlakukanlah kaum wanita dengan baik.
Maka bimbimglah kaum wanita dengan baik.
Maka hormatilah kaum wanita dengan baik.
Bukan malah sebaliknya.
Mengajak wanita untuk melakukan kemaksiatan.
Menjadikan wanita untuk dijerumuskan.
Dan ingatlah.
Ibu yang paling kita hormati adalah wanita juga.

Tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk menyudutkan kaum pria, bukan untuk memberi kesan lemah pada kaum wanita, bukan pula untuk membela para wanita.

Tulisan ini dibuat semata-mata adalah untuk bahan perenungan dan pembelajaran bagi kita semua, khususnya untuk kaum laki-laki, dan lebih khusus lagi untuk mereka yang telah menyandang status ‘suami’ atau ‘imam’ dalam rumah tangga.

Dikutip dari sebuah buku berjudul “100 pesan Nabi untuk Wanita” karangan Badwi Mahmud Al-Syaikh, disana dikatakan sebagai berikut…

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Bersabda, “barang siapa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Hari akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kita melihat hadis ini menyoroti kelemahan alamiah perempuan. Dalam dirinya ada kebengkokan naluriah yang tidak bisa diluruskan oleh siapa pun. Namun demikianlah tuntutan kebijaksanaan Allah, sebagaimana –termasuk kebijaksanaanNya- dia menjadikan laki-laki memiliki kemampuan untuk memelihara hal ini dengan membawanya pada pergaulan yang baik.

Imam Al-Ghazali –seperti dikutip dalam Al-Lu’Lu’wa Al-Marjan karya Muhammad Fu’ad ‘Abdul-Baqi, h. 194- berkata, “Salah satu kewajiban suami terhadap Istri adalah memperlakukannya dengan baik. Perlakuan baik kepadanya bukan hanya tidak menyakiti, melainkan juga bersabar atas perilaku buruk, kelambanan, dan kemarahannya untuk meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Ketahuilah bahwa ada istri beliau yang mengejek beliau dengan mengulang perkataannya dan ada pula yang tidak memedulikan beliau hingga malam. Lebih dari itu, laki-laki dapat lebih bersabar atas perilaku buruk istri dengan humor yang bisa mengenangkan hatinya.”

Lelaki yang baik akan senantiasa menjaga pergaulan dan perilakunya dari yang bukan menjadi mahramnya untuk senantiasa menjaga kesucian dan bukti cintanya kepada sang istri kelak. Dia akan selalu membimbing, menjaga dan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga agar selalu istiqomah berada di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Imam Ahmad pernah berkata, “Aku hidup bersama istriku, Ummu Abdillah, selama empat puluh tahun tidak pernah saya berbeda pendapat dengannya meskipun hanya dalam satu kata.” Ungkapan tersebut menunjukkan betapa sebagai suami, Imam Ahmad tidak pernah meremehkan istrinya, sekalipun dirinya adalah seorang ulama yang sangat kaya akan ilmu, karya dan pengaruh. Imam Ahmad sangat memuliakan sang istri.

Demikian pula khalifah kedua umat Islam, Umar bin Khattab, ia tak membalas “omelan” sang istri dengan suara tinggi, apalagi memainkan tangan untuk membidas kemarahan sang istri agar berhenti dan diam. Umar seperti yang diherankan oleh orang yang hendak mengadukan istrinya, hanya diam, mendengarkan sang istri yang marah-marah.

Kisah tersebut menunjukkan kesempurnaan akhlak insan beriman yang di antaranya termanifestasi dalam kehidupan rumah tangga, memuliakan istri. Mengapa suami mesti memuliakan istri?

Pertama, karena Nabi meneladankannya. Kedua, jasa istri sangat luar biasa. Perhatikanlah bagaimana rumah rapi, makanan dan minuman yang tersedia, anak-anak yang dimandikan, dididik, diantar, dan dijemput sekolah. Istri yang melakukan semua itu. Aid al-Qarni berkata dalam bukunya Beginilah Waktu Mengajari Kita, berpura-puralah tidak mengetahui kesalahan istri dan sebaliknya muliakanlah istri karena jerih payah dan pengorbanannya setia dan menjaga rumah tangga.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR Tirmidzi).

Sangat pantas kemudian Sayyidina Umar RA berkata kepada pria yang hendak mengadukan sikap istrinya. “Wahai saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya, karena itu memang kewajibanku.

Istrikulah yang memasak makanan, membuatkan roti, mencucikan pakaian, dan menyusui anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya,” jawab Umar. “Di samping itu,” sambung Umar, “Hatiku merasa tenang (untuk tidak melakukan perbuatan haram — sebab jasa istriku). Karena itulah aku tetap sabar atas perbuatann istriku.”

Argumen tersebut memberikan makna mendalam bahwa mendengarkan kemarahan istri bukan sebuah kelemahan. Justru itulah kekuatan sejati seorang suami. Sebab, dengan seperti itu, keutuhan rumah tangga tetap terjaga, cinta kasih tetap terawat dan tentu saja kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah perlahan-lahan dapat diwujudkan.

Selain itu, sikap tersebut akan mencegah terjadinya perang mulut, adu argumentasi atau pun debat yang merugikan, yang jika tidak hati-hati justru terdengar anak-anak dan akan berdampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak-anak kita sendiri, sehingga terganggulah ketenteraman keluarga.

Oleh karena itu, memuliakan istri di antaranya dengan bersikap lemah lembut termasuk perkara istimewa yang mesti diupayakan oleh setiap suami. Sadarlah bahwa setiap manusia pernah bersalah, termasuk istri di rumah, maka lapangkanlah dada, sabar, dan didiklah ia dengan kasih sayang disertai doa agar Allah jadikan ia istri yang shalehah.

Wahai wanita baik hati yang masih sendiri, semoga Allah memperkenalkanmu kepada seorang pria yang baik hatinya, yang mencintaimu karena Allah, yang memilihmu karena ketakwaanmu, yang mengerti dan mengusap air matamu ketika kamu terpuruk, yang bisa melindungimu ketika semua orang menghinamu, yang bekerja keras untuk mensejahterakanmu, yang menjadikan hidupnya untuk membahagiakanmu, Aamiin

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *