Perang Arab-Israel, Perang Berkepanjangan yang Tak Akan Berhenti Sebelum Palestina Merdeka

Posted on

 

Pada perang Arab-Israel pertama (1948), secara politik dan militer Isreal memang berhasil memperoleh kemenangan.

Tapi kemenangan Israel dalam peperangan itu sebenarnya merupakan kemenangan semu. Pasalnya, konflik antara Arab-Palestina dan Israel ternyata tidak bisa diselesaikan secara damai. Gencatan senjata yang diprakarsai oleh PBB selalu tidak berumur panjang dan peperangan pun pecah lagi.

Baik Israel maupun negara-negara Arab juga terus membangun kekuatan tempurnya sehingga yang terjadi bukan upaya perdamaian. Melainkan bagaimana mempersiapkan perang dan bisa menang.

Perubahan situasi politik negara-negara Arab juga sangat menentukan bagaimana sikap mereka terhadap Israel. Apakah mereka semakin mengeras, atau justru melemah.

Mesir, yang kekuatan militernya pernah dipukul mundur dalam Perang Arab Israel Pertama, di bawah pimpinan Kolonel Gamal Abdel Nasser terus membangun alutsistanya.

Persenjataan dari Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur banyak dibeli Mesir terutama tank lapis baja dan jet tempur.

Dengan kekuatan militer yang demikian kuat, Mesir pun sengaja menunjukkan arogansinya dengan cara melarang kapal-kapal Israel melintasi Terusan Suez.

Larangan itu jelas melanggar hukum dan potensi memicu konflik karena Terusan Suez merupakan jalur pelayaran internasional.

Sebagai persiapan untuk berperang lagi dengan Israel, Mesir dan Suriah kemudian menyatukan kekuatan militer gabungan dalam satu komando.

Tak lama kemudian Yordania yang semula bersikap lunak terhadap Israel ternyata menggabungkan diri dalam pasukan gabungan Mesir-Suriah.

Merasa telah kuat, Mesir pun memblokade pelabuhan Eliat yang berlokasi di Teluk Aqaba, sehingga hubungan ke kawasan pantai menuju Tanjung Sinai terputus.

Tapi ulah militer Mesir yang terlalu berani itu ternyata tidak bertujuan untuk melemahkan Israel saja. Kolonel Nasser yang dihinggapi euforia nasionalisme Arab, tiba-tiba menasionalisasi Terusan Suez sehingga kapal-kapal bukan milik Mesir harus membayar untuk melintasi.

Nasionalisasi terusan yang semula dikelola perusahaan Inggris-Prancis bernama The Suez Canal Company itu membuat militer Inggris dan Perancis marah. Mereka pun bersiap menyerang Mesir.

Melihat peluang bahwa jika Israel terlebih dahulu menyerang Mesir lebih menguntungkan maka operasi militer dalam skala besar pun segera disiapkan oleh militer Israel.

Dalam startegi ini, Israel memang tak mau kedahuluan oleh serangan pasukan Inggris-Prancis ke Mesir karena bisa-bisa tidak mendapatkan wilayah jajahan.

Setelah siap, militer Israel pun segera melancarkan serangan dadakan. Tak lama kemudian setelah serangan militer Israel ke Mesir itu, jet-jet tempur Inggris-Perancis pun membombardir Mesir.

Suatu serangan udara yang secara tidak langsung sangat menguntungkan pasukan Israel. Serangan dadakan itu dilancarkan militer Israel pada 29 Oktober 1958  melalui taktik serbuan udara (air borne) dan serbuan tank-tank lapis baja.

Dalam pertempuran awal, pertahanan pasukan Mesir di sepanjang Terusan Suez pun mulai terdesak sehingga pasukan Mesir sangat membutuhkan bantuan dari serangan udara.

Tapi kekuatan udara Mesir yang berada di dekat Suez ternyata sedang menghadapi masalah. Bagaimana tidak, pangkalan-pangkalan udara di sana sudah  dibombardir oleh pesawat-pesawat tempur Inggris-Prancis pada 31 Oktober 1958.

Tidak hanya itu pasukan-pasukan payung Inggris dan Prancis juga sudah mendarat di Mesir. Mereka bahkan sudah menguasai kota-kota penting seperti Port Said dan Port Fuad yang berlokasi di mulut Terusan Suez.

Mereka tinggal menunggu perintah untuk menguasai kota-kota penting Mesir lainnya. Hadirnya pasukan Inggris-Prancis membuat pasukan Israel yang bertempur di Semenanjung Sinai mendapat kemajuan pesat.

Mereka berhasil merebut kota pelabuhan Mesir, Sharm El Sheikh, yang berada di posisi strategis di pintu masuk Teluk Aqaba.

Mereka juga sukses membuka blokade Terusan Suez yang selama ini dilakukan Mesir. Tapi terlibatnya pasukan Inggris-Prancis di Mesir yang bisa memicu meluasnya peperangan segera dicegah oleh PBB.

Apalagi pasukan Uni Soviet juga mulai menunjukkan gelagatnya untuk turun ke gelanggang membantu Mesir. Untuk sementara peperangan yang nyaris mencabik-cabik Mesir itu berhenti lagi dan pasukan Inggris-Prancis pun ditarik mundur dari Mesir.

Demi menjamin keamanan, Pasukan PBB pun diturunkan terutama di wilayah Semenanjung Sinai yang saat itu  berhasil dikuasai militer Israel.

Kehadiran pasukan PBB itu membuat pasukan Israel ditarik mundur. Terusan Suez pun kembali menjadi jalur lintasan kapal internasional dan secara keamanan berada di bawah pengawasan pasukan PBB.

Namun berhentinya peperangan itu lagi-lagi hanya sementara. Negara-negara Arab, khususnya Mesir, tak mau tinggal diam.

Program perkuatan alutsista pun terus digencarkan demi menghadapi peperangan selanjutnya. Khususnya untuk menggempur lagi militer Israel yang pernah  bercokol di Semenanjung Sinai.

Suatu kemenangan gemilang secara militer bagi Israel tapi sangat memalukan bagi Mesir. Apalagi Nasser yang tidak terima dengan kekalahan Israel diam-diam terus membangun kekuatan tempurnya secara masif.

Perang Arab-Israel dalam skala besar pun tinggal menunggu untuk meletus sewaktu-waktu. Perang yang selalu memakan korban jiwa warga sipil dan membuat makin pusing pasukan PBB.

Karena setiap kali PBB turun tangan, peperangan sempat berhenti tapi tak lama kemudian kumat lagi. Konflik Arab-Israel bahkan telah menjadi perkerjaan rumah bagi PBB yang tidak kunjung selesai secara tuntas hinggga saat ini.

Pasalnya sebelum warga Arab-Palestina mendapatkan kemerdekaan di bumi Palestina yang saat ini masih dikuasai Israel, konflik Arab-Israel memang tidak akan pernah reda.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *