SHARE

Penyakit stroke memang tidak bisa diabaikan. Kejadiannya yang kerap kali mendadak membuat penderitanya sering tidak dapat terselamatkan.

Menurut dokter spesialis saraf yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Pusat otak Nasional (RS PON), dr Mursyid Bustami, Sp. S(K).,KIC., MARS, penyakit stroke terjadi karena ada proses yang menjadi pemicunya seperti pola hidup yang tidak sehat atau memiliki riwayat keluarga.

Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut, jangan abaikan beberapa tanda dan gejala stroke berikut ini:

1. Mendadak lemah seisi tubuh

2. Mendadak rasa kebas atau kesemutan seisi tubuh

3. Mendadak wajah miring

4. Mendadak gangguan penglihatan (visual)

5. Mendadak gangguan bicara (cadel, tidak bisa bicara atau komunikasi tidak nyambung)

6. Mendadak tidak sadar (pingsan)

7. Mendadak gangguan keseimbangan (vertigo)

“Strategi pencegahan stroke yang utama adalah menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula darah, berhenti merokok, meningkatkan aktivitas fisik, diet rendah garam dan rendah lemak jenuh, serta menurunkan berat badan,” pungkasnya.

Tidur Berlebihan Berisiko Stroke

Sebuah penelitian di Amerika menemukan dampak buruk tidur berlebihan. Menurut para ilmuwan, tidur lebih dari tujuh hingga delapan jam bisa meningkatkan risiko stroke.

Seperti diberitakan Mirror, Minggu (21/2/2016), penelitian sebelumnya menunjukkan, mereka yang tidur dalam tujuh hingga delapan jam dan berolahraga secara teratur dapat mengurangi risiko sakit. Namun penelitian baru ini kembali mengungkap fakta lain.

“Orang yang tidur lebih dari delapan jam memiliki risiko 146 persen menderita stroke,” kata peneliti.

Para peneliti dari New York University School of Medicine ini rencananya akan mempresentasikan temuan mereka pada Konferensi Stroke Internasional American Stroke Association di Los Angeles.

Menurut peneliti, studi ini melibatkan lebih dari 100.000 orang di Inggris yang mengalami stroke setiap tahun. Sebab penyakit ini merupakan penyebab kematian ketiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Peneliti juga menambahkan data analisis komputerisasi dari 288.888 orang dewasa yang ikut dalam survei pada 2004-2013.

“Tim menilai sampel dari beberapa faktor termasuk kesehatan, gaya hidup, usia dan etnis. Hasilnya, mereka yang tidur lama namun sering berjalan kaki, berenang, bersepeda atau berkebun cenderung terhindar dari penyakit atau 25 persen risiko stroke lebih kecil. Sedangkan mereka yang tidur lebih dari delapan jam tidak aktif berisiko tinggi menderita stroke. Sering tidur kurang dari tujuh jam juga berisiko 22 persen stroke,” ujar peneliti.

Dalam studi tersebut, peneliti menyimpulkan tidur cukup harus dibarengi dengan aktivitas santai rutin seperti berjalan atau bersepeda selama 30-60 menit enam kali per minggu. Langkah ini secara signifikan menurunkan risiko stroke.

Sumber

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here