SHARE

Hidup Cathy Hagner dan ketiga anaknya dipenuhi dengan beragam agenda setiap harinya. Dimulai dengan agenda sekolah anak-anaknya, mulai dari pagi hingga siang hari, yang berlanjut pada rutinitas paralel yang sangat padat.

Selepas menjemput anak-anaknya dari sekolah, Cathy mengantar Brendan yang berusia 12 tahun dan Matthew yang berusia 10 tahun mulai dari lapangan sepakbola menuju lapangan hoki, berlanjut ke lapangan basket. Sementara itu, Cathy juga harus mengantar Julie, anak perempuannya yang berusia 8 tahun les piano.

Dengan rutinitas tersebut, waktu makan malam bersama pun sering terlewatkan dengan kegiatan masing-masing. Bahkan, ketika sampai di rumah, ketiga anak tersebut kembali disibukkan dengan pekerjaan rumah mereka masing-masing.

“Terkadang kami tertekan dengan rutinitas ini, dan berpikir apa benar ini adalah kehidupan normal yang sebenarnya ingin kami jalani. Sampai kemudian, saya sadar, di luar sana banyak keluarga yang anak-anaknya melakukan lebih banyak agenda dibanding ketiga anak saya,” kata Cathy, seorang ibu yang tinggal di New York.

Bukan hanya keluarga Cathy di Amerika sana saja yang tengah mengalami dilema tersebut. Airlangga, anak kelas satu SMA yang tinggal di daerah Depok juga mengeluhkan hal yang sama. Ia beberapa kali kewalahan dengan kegiatan-kegiatannya setiap hari, mulai dari sekolah, ekstrakurikuler basket, ditambah ia juga harus mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan olimpiade matematika. Belum lagi beberapa minggu terakhir ini orangtuanya dengan sengaja memasukkannya ke kelas piano klasik untuk meningkatkan kemampuannya dalam bermusik.

Menurut Airlangga, orangtuanya merasa ia mampu menjalani rutinitas tersebut, selain meyakini bahwa kelas piano itu mendukung bakatnya dan membantunya lebih piawai bemusik, terutama saat bermusik untuk kegiatan di gerejanya.

Selamat datang di dunia hyper-parenting. Sebuah dunia yang mana orang-orangtua ‘memacu’ anaknya untuk terus berlari kencang ke depan dengan ketiadaan garis finish. Sejumlah orangtua menikmati perannya tersebut, karena selain memegang kontrol penuh atas perjalanan anak-anaknya, mereka juga merasakan kepuasan atas aturan-batasan yang mereka tetapkan sendiri.

Namun, benarkah pola asuh yang terlihat sistematis ini baik untuk perkembangan anak?

“Ini sebenarnya adalah permasalahan pola asuh orangtua, setidaknya untuk keluarga kelas menengah ke atas,” kata psikiater anak Dr. Alvin Rosenfed.

Rosenfeld juga mengungkapkan bahwa orangtua percaya mereka mampu ‘memprogram’ anak mereka untuk tujuan mencapai kesuksesan dengan pola hyper-parenting ini.

“Ini adalah pola asuh fasis dan menjauhkan anak dan orangtua dari hal-hal menyenangkan yang seharusnya bisa mereka lakukan,” tambah Rosefeld.

Rosefeld juga menjelaskan bahwa sejumlah orangtua kalangan menengah ke atas lebih sering khawatir atas kehidupan anak mereka yang sebenarnya baik-baik saja. Bahkan ada beberapa orangtua yang secara sengaja mencari hormon pertumbuhan untuk anaknya, didasari anggapan bahwa orang-orang bertubuh pendek akan dianggap pecundang.

“Sejumlah dokter melaporkan bahwa anak-anak sering menderita sakit maag dan sakit kepala akibat kelelahan dan stres,” kata pakar anak kecil, William Doherty dari University of Minnesota.

Kecenderungan orangtua untuk ‘memaksa sempurna’ anak-anaknya ini juga dipicu oleh motivasi dan tuntutan yang dibentuk oleh lingkungan sekitarnya. Sejumlah orangtua bahkan percaya bahwa tindakannya tersebut termasuk dalam pola asuh anak baru.

“Ada anggapan bahwa perilaku orangtua tersebut termasuk dalam pola asuh baru, yang mengatakan bahwa Anda harus mengeluarkan semua potensi anak Anda di usia muda, jika Anda tidak mau kecewa di kemudian hari,” kata Terri Apter, seorang ahli psikiatri remaja.

Kecenderungan kompulsif orangtua untuk menyempurnakan anak-anak mereka dalam segala hal ini turut dijelaskan oleh Nurul Mufidah dan Muhammad Rifqi dalam penelitiannya yang berjudul “Hyper-parenting Effects Toward Child’s Personality in Stephen King’s Novel Carrie”. Melalui penelitiannya, Mufidah dan Rifqi mencoba mencari tahu latar belakang orangtua melakukan pola asuh hyper-parenting.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, peneliti menemukan bahwa penyebab utama terjadinya hyper-parenting adalah peristiwa traumatik masa lalu yang dialami oleh orangtua. Mereka juga menemukan sejumlah dampak negatif dari penerapan pola asuh anak ini.

“Hyper-parenting juga akan membuat anak kurang percaya diri, kurang mandiri, mudah menyerah, mudah cemas dan takut menghadapi dunia luar. Selain itu anak menjadi kurang terampil dalam bersosialisasi,” tulis kedua peneliti.

Pola asuh hyper-parenting yang cenderung mendikte anak ini akan menyebabkan anak mempunyai emosi yang kaku dan sulit dikontrol. Selain itu, anak yang terlalu terbebani dengan aturan dan tugas juga akan membuat tenaga dan pikirannya terkuras, yang bukannya tidak mungkin akan berujung pada masalah kesehatan si anak itu sendiri.

Hal ini dijelaskan oleh Ian Janssen dalam risetnya yang berjudul “Hyper-parenting is Negatively Associated with Physical Activity Among 7–12 Year Olds.” Penelitian yang melibatkan 724 orangtua dari anak berusia 7-12 tahun di Amerika Utara ini menerangkan bahwa pola asuh hiper akan menyebabkan dampak negatif pada aktivitas fisik anak. Padahal, aktivitas fisik ini memainkan peran penting dalam menentukan kesehatan mental, fisik, dan sosial anak.

Kebiasaan orangtua mengarahkan anaknya akan membuat anak menjadi terlalu penurut dan kurang bisa mengembangkan bakat dan potensinya sendiri. Banyaknya tugas dari orangtua dan aturan-aturan yang membatasi gerak mereka berpotensi membuat anak tertekan, terbebani, dan rentan depresi.

Stanford Dean dan Julie Lythcott-Haims dalam buku How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kid for Success menuliskan juga bahwa anak yang kurang mendapat kebebasan dari orangtuanya lebih rentan menjadi korban bully di sekolah ataupun lingkungannya. Perundungan terjadi karena kurangnya kemampuan komunikasi antara anak dengan teman-temannya.

Peraturan dan tugas yang diarahkan orangtua otomatis membuat anak menjadi lebih sibuk, sehingga perlahan akan abai dengan lingkungan sekitar. Kesibukan yang dijalani anak akan membuat waktu bermain anak menjadi sangat kurang. Selain itu, ia secara perlahan ditarik dari lingkungan sosialnya. Konsekuensinya, anak-anak ini akan kesulitan berkomunikasi dengan baik dengan teman-teman sekitarnya.

Perilaku hyper-parenting juga mengarah pada pembatasan kegiatan anak dengan lingkungan bermainnya. Sejumlah orangtua bahkan melarang anak-anaknya bermain di tempat-tempat kotor. Celakanya, penelitian yang dipublikasi di Journal of Allergy and Clinical Immunology mencatat, anak-anak yang tinggal di rumah yang terlalu bersih justru lebih mudah menderita alergi dan asma.

“Orangtua mungkin berpikir anaknya harus sehat sehingga mereka terlalu overprotektif menjaga mereka dari paparan kotoran, debu, jamur. Tapi nyatanya, kotoran adalah bagian dari pengembangan sistem kekebalan tubuh anak. Ketika Anda menciptakan lingkungan yang steril untuk anak-anak, Anda justru membentuk anak Anda menjadi lebih mudah sakit,” pungkas Dr. Todd Mahr, seorang ahli alergi dan imunologi.

Sumber: tirto

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here