4 Pertanyaan yang Tidak Boleh Diajukan ke Teman Atau Kerabat. Apakah itu?

Posted on

 

Salah satu bentuk kepedulian terhadap orang lain adalah menanyakan kabar. Bagaimana kondisimu? Adakah yang bisa saya bantu? Tapi tak jarang, jika salah bertanya, sebentuk kepedulian tadi justru menjadi senjata yang menyakitkan.

Berbagai tulisan sudah sering menyinggung pertanyaan yang tidak boleh diajukan kepada perempuan misal soal usia atau berat badan. Namun sebenarnya masih ada beberapa soalan yang berpotensi melukai perasaan. Apa sajakah?

Pertanyaan 1: Hamil berapa bulan?

Berjumpa kawan lama yang kamu tahu sudah menikah, melihatnya dalam keadaan hamil, tentu membuatmu turut bahagia. Saking antusias tanpa berpikir, kamu pun tak sabar melontarkan pertanyaan umum, “Eh, sudah hamil berapa bulan?”

Sumber: huffingtonpost

Sekilas terlihat positif. Masalahnya, jika ternyata sang teman tidak hamil, apa yang terjadi? Pertanyaan tersebut seolah mengatakan, “Meski tidak hamil penampakanmu seperti orang hamil!” Bayangkan kalau kita yang menerima pertanyaan senada, pasti menyebalkan.

Saya sendiri pernah mengalami di awal usia pernikahan. Setelah melahirkan berat badan rupanya tak kunjung turun. Suatu hari saya bertemu sahabat suami yang dengan santai bertanya kepada suami, “Istri ente hamil berapa bulan?” Wah, serasa ada palu godam di kepala.

Padahal sahabatnya bukan orang sembarangan, termasuk pimpinan organisasi kemahasiswaan terbesar, bahkan saat ini punya posisi penting di pemerintahan. Pernyataan yang keluar murni bentuk keakraban tapi terasa melukai. Kejadian yang saya alami membuktikan ini bukan persoalan intelektual atau moral, tapi ketidak-tahuan potensi menyakitkan dari pertanyaan itu yang membuat kalimat sedemikian menyebalkan bisa lahir dari orang baik, sosok peduli, juga pintar. Sekaligus membuktikan, pertanyaan tersebut bisa meninggalkan sisa mendalam jika salah alamat. Buktinya kejadian dua puluh tahun lalu tetap masih teringat.

Karena itu, kalau tidak tahu pasti, dan bukan lawan bicara yang mengungkapkan kehamilan, maka jangan pernah bertanya “Sedang hamil berapa bulan?”

Pertanyaan 2: Anak sudah berapa?

Sering kan bertemu teman-teman lama saat reuni yang bercerita akan pasangan masing-masing, dan tertawa bersama. Lalu mulai bicara tentang anak-anak yang memicu pertanyaan satu sama lain. Anak kamu berapa? Di luar dugaan pertanyaan itu pernah membuat seorang teman berlinang. Rupanya ia sudah menikah belasan tahun, namun belum dikaruniai anak.

Lontaran sederhana tersebut mampu mengakibatkan nyeri mendalam. Mungkin karena selama ini ia selalu berusaha melupakan kesedihan sebab belum dikaruniai keturunan. Pertanyaan barusan membuka kepedihan yang selama ini berusaha dilupakan.

Sumber: healthyliving

Saya sendiri baru-baru ini menjadi saksi. Tapi pelakunya justru suami sendiri yang berjumpa teman lama di sebuah pesta pernikahan. Seorang senior di media massa yang sudah dua puluh tahun tidak bertemu. Kami berbincang tentang apa saja, politik, ekonomi, termasuk masalah parenting. Ia juga antusias berbicara tentang anak-anak, pendidikan, dan masa depan.

Si teman lalu bertanya bagaimana anak-anak kami. Saya dan suami pun bercerita panjang lebar. Menunjukkan antusiasme yang sama, suami bertanya balik jumlah anak sang kawan. Mendengarnya, mata sang teman sedikit berkabut, “Saya termasuk salah satu yang belum dipercaya untuk mengemban amanah mempunyai anak.” Kontan suami terdiam.

Memang bukan situasi mudah. Jika tidak bertanya balik, terasa egois sebab hanya bercerita soal anak sendiri. Di lain pihak, pasti menyakitkan jika sang teman masih dalam masa menanti momongan. Lalu, bagaimana sikap yang tepat? Mungkin kalimat yang netral adalah, kamu sendiri bagaimana? Dengan harapan si teman akan menjawab, “Anak? Oh saya belum punya.” Setidaknya bukan kita yang memicu situasi tidak nyaman.

Intinya, saat bertemu teman lama, daripada memberi pertanyaan yang merusak suasana, lebih baik tahan keinginan mencari tahu urusan nikah, pasangan, atau keluarga, kecuali mereka membukanya sendiri. Karena bisa saja yang ditanya belum menikah, sudah bercerai, belum punya anak, anaknya meninggal, dan banyak kemungkinan pertanyaan yang diajukan malah menimbulkan kesedihan.

Pertanyaan 3: Kapan Nikah?

Hindari mengajukannya terutama pada perempuan. Melihat gadis berusia di atas dua puluh tahun dan belum nikah, ringan saja lisan bertanya.

Kadang sekedar kepo, kadang itu cara memberi semangat, tapi percayalah sekalipun niatnya baik akan menyakitkan.

Asumsinya setiap perempuan punya keinginan menikah, terlebih saat usia sudah cukup. Tapi sebagian besar kaum hawa, terutama di Indonesia atau budaya timur, harus menanti untuk mendapat pasangan. Berbeda dengan laki-laki, keputusan ini tidak berada 100% di tangan mereka.

Sumber: ritzcarlton

Ada yang bertahun-tahun belum mendapatkan pasangan. Ada yang calonnya tidak diizinkan orang tua. Sebagian sudah siap menikah baik secara mental atau materi namun terkesan terlalu mapan hingga lelaki takut mendekat, dan banyak alasan lain. Dari waktu ke waktu mereka pasti sudah berusaha menghibur diri sendiri. Oleh sebab itu pertanyaan kapan menikah? hanya akan teramat menyakitkan.

Pertanyaan 4: Kapan Punya Momongan?

Ini juga pertanyaan yang tidak pantas dan menimbulkan pedih. Pertama bukan manusia yang menentukan kapan punya anak. Kedua, jika ini ditanyakan pada pasangan yang sudah begitu lama menanti buah hati, bahkan berkali-kali periksa ke dokter agar punya keturunan.

Panjang lebar terkait kata dan akhlak seseorang khususnya muslimah, sempat saya tulis di buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin. Berpikir sebelum bicara, menimbang dengan cermat sebelum bertindak, agar kata dan laku tak perlu menyebabkan bongkah kesedihan yang susah payah ditenggelamkan dalam ingatan, kembali muncul ke permukaan.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *