SHARE

Kata “insya Allah” begitu populer bagi masyarakat Muslim di Tanah Air. Tak hanya dalam percakapan sehari-hari, salah satu kalimat thayyibah ini juga sangat sering kita dengar di media massa terutama tayangan televisi. Meski begitu, seperti biasa, kata ini sering diterima dan dipakai begitu saja tanpa menyesuaikan makna dan penggunaan yang seharusnya.

Memang disebutkan di dalam Al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 23-24 Allah berfirman, “Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa”

Penggunaan kalimat insya Allah ini merupakan sunnah nabi-nabi terdahulu yang diwariskan kepada umat Nabi Muhammad. Justeru, kalimat ini bukan perkara ringan, malah ianya mengandungi makna yang sangat penting untuk dipahami.

Jelaslah, ucapan insya Allah sama sekali bukan alat untuk melepaskan tanggung jawab atau alasan untuk tidak menepati janji. Sebagai seorang muslim, janji adalah hutang yang mesti kita tunaikan. Ucapan ini juga bukan kalimat alternatif untuk menolak secara halus permintaan pihak yang ingin kita jaga hatinya.

Sebaliknya, insya Allah lebih sesuai difahami sebagai kata-kata jaminan bahawa janji yang telah terucap akan akan terlaksana dengan baik. Sebab siapa yang berjanji dengan niat sungguh-sungguh untuk melaksanakannya, sambil menyerahkan perkara itu kepada Allah, bantuan dari Allah akan datang untuk mewujudkan janji tersebut.

Namun kenyataannya, kata “insya Allah” kerap diucapkan untuk janji yang potensial dilanggar, komitmen yang tidak teguh, atau harapan yang tidak pasti. Meski lebih sering kita jumpai, bukan berarti semua itu tepat. Orang menyebutnya salah kaprah alias kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan. “Kok kemarin nggak jadi? Katanya mau dateng?” dan ia pun berlindung di balik kalimat insya Allah, “Kan aku bilangnya insya Allah”

Padahal ketika seseorang mengucap insya Allah, berarti dia sedang bersumpah atas nama Allah. Yang berarti dia harus benar-benar mengupayakan untuk berkomitmen menepati janji yang sudah ia ikrarkan. Bukan malah menjadikan insya Allah sebagai senjata untuk mencari-cari alasan tidak menepati janji dan meninggalkan tanggungjawab. Katakan tidak kalau memang benar-benar tidak bisa, jangan karena sungkan lalu menggunakan Allah sebagai alasan untuk berlindung.

Allah menegur keras perbuatan seperti ini, “Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu).” (QS. An-Nahl: 91)

Dengan demikian, mengucapkan kata insya allah sesungguhnya bersumber dari perintah Al-Qur’an. Secara literal ia berarti “jika Allah menghendaki”. Ayat ini mengandung pendidikan bagi pengucapnya tentang pentingnya rendah hati. Tidak terlalu mengandalkan kemampuan pribadi karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya.

Sangat perlu dipahami bahwa insya Allah bukan ucapan basa-basi atau tempat berlindung dari ketidakteguhan janji. Insya Allah mengandung pendidikan tentang sikap tawadhu. Penghayatan kepada makna hakiki insya Allah juga membawa manusia pada puncak kesadaran tauhid: Hanya Allah tempat bergantung segala sesuatu.

Dan jangan sampai kita termasuk dari ciri-ciri orang munafik yang disebut oleh Rasulullah, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga keadaan. Jika ia berkata ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Wallahu A’lam.

 

sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here